PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA MATERI
BANGUN RUANG UNTUK MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V
SDN SUKORAME 5 MOJOROTO KEDIRI


Laporan Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP)
( dengan Penelitian Tindakan Kelas )
Diajukan kepada
Universitas Terbuka UPBJJ UT Malang
Untuk memenuhi salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan program Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar


Oleh :
DZULFA RAHMAWATI
NIM : 824636276




KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS TERBUKA NEGERI
UPBJJ-UT MALANG POKJAR KOTA KEDIRI
PROGRAM S1-PGSD
TAHUN 2017



BAB I

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
1.     Identifikasi masalah
Permasalahan pendidikan dasar di Indonesia yang harus mendapatkan penanggulangan secepatnya adalah rendahnya kualitas hasil pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika. Sebab matematika mempunyai kontribusi yang sangat penting dalam kehidupan siswa dimasa mendatang.
Kondisi kelas yang memiliki siswa yang pasif membuat proses pembelajaran terhambat. Kemampuan guru yang kurang dapat mengkondisikan kelas,  suasana belajar yang kurang menyenangkan, keterbatasan pengetahuan, kurang mampunya guru dalam menggunakan media pembelajaran dan pemilihan metode yang kurang tepat dapat juga menjadi penghambat dalam proses pembelajaran.
Banyak media pembelajaran di sekolah yang terlantar dan tidak diperkenanksn, guru kurang percaya dengan kemampuan media dan menganggap bahwa media belajar itu hanyalah sebagai alat bantu yang tidak penting dalam proses belajar mengajar. Mereka menganggap bahwa dengan metode ceramah adalah pembelajaran yang paling efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran yang menerapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) diharap kan dapat meningkatkan hasil pembelajaran Matematika. Karakteristik pembelajaran berbasis kompetensi adalah proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru hanya sebagai fasilitator. Dalam proses pembelajaran siswa belajar dan menggunakan semua potensi yang dimilikinya.
Terkait dengan pembelajaran matematika, banyak kecenderungan baru yang tumbuh dan berkembang. Sebagai inovasi dan reformasi model pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tantangan sekarang dan mendatang. Dalam hal ini peneliti menerapkan pembalajaran kooperatif (cooperative learning),  dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda.
2.     Analisis masalah
Mengetahui adanya permasalahan kurangnya nilai siswa berdasarkan KKM, maka dicari penyebab adanya permasalahan tersebut dengan melakukan observasi pada pembelajaran matematika. Berdasarkan observasi tersebut ditemukan fakta sebagai berikut:
a.      Siswa belum menguasai materi bangun ruang
b.     Siswa rata-rata tidak suka dengan mata pelajaran matematika karena merasa sulit.
3.     Alternatif dan prioritas pemecahan masalah
Sebagai alternatif permasalahan ini adalah dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Pemilihan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai diharapkan dapat memberikan motivasi belajar bagi siswa, sehingga berdampak positif pada prestasi belajar siswa dan meningkatkan pemahaman siswa.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas rumusan masalah yang bisa diajukan dalam penelitian ini adalah :
Apakah penggunaan metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dapat meningkatkan prestasi siswa kelas V SD Negeri Sukorame 5 tentang materi bangun ruang?

C.    Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tujuan penelitian yang relevan untuk menjawab beberapa permasalahan  adalah :
Meningkatkan prestasi siswa kelas V pada mata pelajaran Matematika sub pokok bahasan bangun ruang SD Negeri Sukorame 5 menggunakan metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning)..

D.    Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Hasil penelitian tentang penggunaan alat peraga dan metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) diharapkan dapat dijadikan alteratif bagi
1.      Siswa
Siswa dapat lebih aktif terlibat langsung dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dialaminya, meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan prestasi belajar, menumbuhkan rasa senang terhadap pelajaran Matematika,
2.      Guru
Membantu guru memperbaiki pembelajaran, membantu guru berkembang secara professional, meningkatkan rasa percaya diri guru
memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan
3.      Sekolah
Manfaat untuk lembaga adalah meningkatkan kualitas pendidikan, menumbuhkan iklim kerjasama yang kondusif untuk memajukan sekolah.
4.      Peneliti
Manfaat bagi peneliti adalah menambah wawasan, pengembangan kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran,



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.       Definisi Prestasi, Belajar, dan Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985:110) menyaatakan bahwa perstasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap, dan keterampilan.
Cronbach, Harold Spears dan Geoch dalam Sardiman A.M (2005:20) “ Learning is shown by a change in behavior as a result of experience “. “ belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai hasil pengalaman”.
Winkel (1996:226)  mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993:77) belajar adalah usaha maksimal yang telah dicapai seseorang setelah melakukan usaha-usaha belajar.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan keberhasilan yang dicapai seseorang setelah melalui proses belajar dan menunjukan adanya perubahan perilaku belajar. Pengetahuan tersebut di atas dapat dibentuk oleh individu sendiri berupa pengetahuan fisik, logika, dan sosial.
B.       Definisi Matematika
                      James dan James (1976) menyatakan bahwa metematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lain. Matematika terbagi menjadi empat bagian yaitu aritmatika, aljabar, geometris, dan analisis dengan aritmatika mencakup teori bilangan dan statistika.

C.       Definisi Bangun Ruang
Sumanto (2008:58) bangun ruang disebut juga bangun tiga dimensi. Bangun ruang merupakan sebuah bangun yang memiliki ruang yang dibatasi oleh beberapa sisi.
D.       Model Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning )
Pembelajaran kooperatif merupakan kegiatan belajar dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil dengan kemampuan tiap siswa yang berbeda-beda. Dalam kelompok ini tiap anggota dituntut untuk saling terlibat dalam kerjasama antar anggota kelompok dalam penyelesaian sebuah masalah. Model pembelajaran kooperatit dikembangkan berdasarkan teori nelajar kooperatif konstruktivistik
Teori belajar Vygotsky (1978,1986) pembelajaran kooperatif (cooperative learning) menekankan pada interaksi sosial sebagai sebuah mekanisme untuk mendukung perkembangan kognitif. Dalam teori Vygotsky penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran Vygotsky yaikni bahwa fase mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau kerja sama antara individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi diserap oleh individu tersebut.
Pembelajaran kooperatif  (cooperative learning) merupakan pengembangan dari teori  Piaget tentang belajar mandiri ke belajar kelompok oleh Vygotsky. Dalam membangun kemampuan dan pengetahuan, siswa memperoleh pengetahuan beraneka ragam dengan guru sebagai fasilitator.
Dari beberapa teori diatas proses kognitif yang dilakukan adalah memperoleh dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan, dan berbahasa. Dalam kegiatan kelompok dapat berupa diskusi kelompok kecil, diskusi kelas, mengerjakan tugas kelompok, mengerjakan secara bersama ke depan kelas 2 sampai 3 siswa dengan soal yang sama sebagai bahan diskusi, membuat laporan matematika, dan tugas menyampaikan hasil kerja kelompok.

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A.    Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian serta Pihak Yang membantu
1.     Subjek penelitian perbaikan pembelajaran
Subjek penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah siswa kelas V SD Negeri Sukorame 5 kecamatan Mojoroto Kota Kediri dengan jumlah siswa 15 orang. Penelitian ini tentang meningkatkan prestasi belajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif terhadap materi bangun ruang.
2.     Waktu penelitian perbaikan pembelajaran
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2017 di SD Negeri Sukorame 5 kecamatan Mojoroto Kota Kediri tahun ajaran 2016/2017. Kegiatan pra siklus dilaksanakan pada tanggal 17 April 2017. Kegiatan perbaikan siklus I dilaksanakan pada tanggal 21 April 2017. Kegiatan perbaikan siklus II dilaksanakan pada tanggal 26 April 2017.
3.     Pihak yang membantu penelitian perbaikan pembelajaran
Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti sendiri dibantu oleh seorang guru yang bertindak sebagai observer / teman sejawat dan siswa sebagai subjek peneliti.
·         Observer
Nama                           :
NIP                             :
Jabatan                        : Guru Kelas
Sekolah                       : SD Negeri Sukorame 5
Alamat Sekolah           : Jl. Veteran III/25 Kec. Mojoroto Kediri
Tugas                           : Mengobservasi kegiatan perbaikan pembelajaran

B.       Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Dalam penelitian perbaikan pembelajaran ini terdiri dari 2 siklus dengan tahap-tahap kegiatan yang ditempuh pada setiap siklus meliputi 4 kegiatan yaitu : 1. Tahap perencanaan tindakan perbaikan (plan), 2. Tahap pelaksanaan perbaikan pembelajaran (action), 3. tahap pengamatan (observation), 4. tahap perenungan (reflection).
Siklus penelitan perbaikan pembelajaran dapat dipaparkan sebagai berikut :
1.     Tahap perencanaan (plan)
Penelitian ini direncanakan terdiri dari dua siklus. Kedua siklus ini saling berkaitan satu sama lain. Siklus II merupakan perbaikan dari refleksi pada siklus I. Tahap perencanaan tindakan adalah langkah persiapan untuk : (a) Mengidentfikasi aktifitas dan prestasi belajar Matematika semester dua siswa kelas V SD Negeri Sukorame 5. (b) Menyusun rencana tindakan yang hendak dilakukan dalam penerapan pembelajaran koopertaif dengan menyusun rencana pembelajaran, menyusun instrumen-instrumen yang akan digunakan. (c) Menyiapkan sumber, alat dan bahan yang hendak digunakan.
Tahap perencanaan pada kegiatan siklus I Menyusun rencana perbaikan pembelajaran, membuat soal tugas kelompok LKS Matematika tentang bangun ruang, membuat soal tugas individu, mempersiapkan sumber belajar, buku panduan referensi Matematika kelas V Spektrum, LKS, dan soal latihan.
Tahap perencanaan pada siklus II Menyusun rencana perbaikan pembelajaran, membuat alat peraga miniatur bangun ruang, membuat soal tugas kelompok LKS Matematika tentang bangun ruang, membuat soal tugas individu, mempersiapkan sumber belajar, buku panduan referensi Matematika kelas V Spektrum, LKS, soal latihan, dan alat peraga miniatur bangun ruang.

2.     Tahap pelaksanaan (action)
Tahap tindakan adalah kegiatan pelaksanaan penerapan metode sesuai dengan rencana tindakan  yang telah disusun sebelumnya. Pada kegiatn pra siklus dimulai dengan metode ceramah yang digunkan guru dalam melakukan pembelajaran sehari-hari. Pada kegiatan ini guru menjelaskan tentang sifat-sifat bangun ruang, dan melakukan tanya jawab dengan siswa seputar materi yang telah dibahas dan menyimpulkan materi.
Pada siklus I metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) mulai diterapkan dalam pembelajaran, karena pada siklus ini merupakan kegiatan perbaikan pembelajaran dari kegiatan pra siklus. Siklus ini dimulai dengan menerapkan stuktur pembelajaran dan melangsungkan kegiatan belajar mengajar di kelas, yang terdiri dari 3 kegiatan yaitu : 1) kegiatan pendahuluan, 2) kegiatan inti, dan 3) kegiatan penutup. Dalam kegiatan pendahuluan guru mengaitkan materi yang akan dibahas dengan kondisi sekitar siswa. Selanjutnya kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) yaitu diskusi kelompok. Setiap kelompok mengerjakan LKS yang di berikan guru serta melaporkan hasil diskusi. Sedangkan bagian penutup siswa diminta untuk mengerjakan soal latihan individu..
Dalam siklus II tindakan dimulai dengan menerapkan diskusi kelompok. Pertama membagi siswa menjadi 5 kelompok. Guru membagikan LKS, kemudian tiap kelompok mendiskusikannya. Selanjutnya perwakilan dari tiap kelompok melaporkan hasil diskusi kelompok. Setelah kegiatan dikusi dilaksanakan siswa mengerjakan soal latihan individu. Pada kegitan akhir pembelajaran siswa diajak untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
Pada setiap akhir siklus dilakukan evaluasi untuk mengetahui peningkatan pemahaman dan prestasi belajar siswa kelas V terhadap materi bangun ruang SD Negeri Sukorame 5.
3.     Tahap pengamatan (observation)
Tahap pengamatan adalah kegiatan langsung maupun tidak langsung untuk merekam semua peristiwa yang terjadi pada saat proses tindakan. Pengamatan ini merupakan teknik pengumpulan data dalam nenelitian tindakan kelas dan digunakan untuk mengetahui peningkatan aktifitas belajar, pemahaman, serta prestasi yang dicapai siswa kelas V SD Negeri Sukorame 5 selama proses pembelajaran dan perbaikannya.
4.     Tahap perenungan (reflection)
Tahap perenungan adalah tahap dimana mengkaji hasil observasi dan merenungkan kembali proses-proses tindakan dengan berbagai permasalahan. Dalam tahap ini diolah lembar observasi,  dan tes prestasi belajar siswa yang didapat dari tahap tindakan kemudian menganalisisnya untuk melihat peningkatan aktivitas belajar, pemahaman, dan prestasi siswa kelas V SD Negeri Sukorame 5. Kegiatan ini dilakukan untuk menentukan dan mendapatkan masukan bagi perbaikan rencana selanjutnya.


 











Gambar 3.1 Spiral Penelitian Tindakan Kelas
(Diadaptasi dari Kasbolah, 1999)
                    Penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan penelitian tindakan (Action Researtch), karena penelitian ini menggunakan jenis pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK). Keseluruhan tahapan ini membentuk alur sampai selesainya seluruh kegiatan penelitian, sehingga diperoleh data yang dapat disimpulkan sebagai jawaban dari permasalahan penelitian ini.

C.       Teknik Analisis Data
          Teknik analisis data dilakukan setelah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus. Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.     Data Aktifitas Belajar Matematika Siswa kelas V
Data aktifitas belajar Matematika siswa kelas V diperoleh melalui lembar observasi dan teknik yang digunakan dalam penelitian adalah teknik analisis kualitatif. Hasil observasi ini kemudian dianalisis untuk melihat aktifitas-aktfitas apa saja yang muncul selama pembelajaran Matematika dengan tidak menggunakan metode dan penggunaan metode diskusi serta penggunaan alat peraga sebagai alat bantu pendukung pada kegiatan perbaikan.
Untuk melihat tingkat keberhasilan siswa dalam belajar dapat ditentukan kriterianya berkisar 80% dari nilai yang seharusnya dicapai. Standar keberhasilan belajar ini tercantum dalam kurikulum SD Negeri Sukorame 5 Mojoroto Kota Kediri.

2.     Pemahaman Sifat-sifat Bangun Ruang
Tingkat pemahaman siswa terhadap sifat-sifat bangun ruang diperoleh dari hasil tes yang dilakukan disetiap siklus yaitu siklus I dan II sial isian berjumlah 5 soal dan soal uraian berjumlah 5 soal.
Tingkat pemahaman siswa dapat dikatakan tuntas apabila penguasaan siswa terhadap materi mencapai 70% atau mendapatkan nilai 70 dari setiap tes. Siswa yang mampu memperoleh nilai lebih dari 70 diberikan tes pengayaan, sedangkan siswa yang memperoleh nilai kurang dari 70 diadakan remidial.
Secara klasikal prosentase tingkat pemahaman siswa dapat dikatakan tuntas jika siswa yang memperoleh nilai di atas 70 mencapai 80% dari jumlah seluruh siswa. Jika kurang dari 80% maka dapat dikatakan kurang dan diadakan perbaikan.
Penilaian ini dillakukan untuk mengetahui keberhasilan dalam pembelajaran Matematika sub pokok bahasan sifat-sifat bangun ruang. Penelitian ini mengacu pada proses kegiatan pembelajaran dan hasil akhir penilaian dalam bentuk prosentase.
3.     Keterlaksanaan Pembelajaran Kooperatif dalam Pembelajaran
Keterlaksanaan pembelajaran kooperatif dikatakan berhasil jika 80% siswa atau 12 siswa dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif dengan baik dan memperoleh nilai yang telah ditentukan.
4.     Kegiatan Mengajar Guru
            Kegiatan mengajar dapat dikatakan baik jika guru dapat mengkondisikan kelas dan siswa, dapat memberikan motovasi belajar kepada siswa, membangkitkan semangat belajar, dapat memberikan petunjuk dan penjelasan berkaitan dengan isi pembelajaran, menangani pertanyaan dan respon dari siswa, memicu keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan mengelola alokasi waktu secara efisien. Hasil dari kegiatan mengajar guru dapat diamati dari lembar observasi kemampuan guru.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam hal ini akan dipaparkan beberapa data hasil peneliti yang meliputi data hasil pengamatan pelaksanaan tindakan pada kegiatan pra siklus, siklus I, dan siklus II, dan data-data prestasi belajar siswa yang diperoleh dari hasil test yang diberikan selama kegiatan berlangsung.

A.    Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1.         Kegiatan Pra Siklus
a.     Perencanaan
·     Menyusun rencana pembelajaran
·         Membuat soal tes prestasi belajar siswa dalam pelajaran Matematika
·         Membuat lembar observasi
·         Mempersiapkan sumber, bahan berupa buku reverensi Matematika kelas V
b.     Pelaksanaan Tindakan Kelas
Kegiatan awal
Ø  Apresepsi :
·    Mengkondisikan kelas mulai dari kelas sampai dengan presensi.
·    Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdo’a.
·    Menyampaikan materi yang akan dipelajari.
Ø Motivasi :           
·  Menyampaikan tujuan pembelajran yang harus dicapai.
·    Mengaitkan pembelajaran dengan benda-benda di sekitar siswa.

Kegiatan Inti :
Ø  Eksplorasi :
·        Menggali potensi siswa dengan cara menunjuk beberapa siswa untuk menyebutkan minimal 3 sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
Ø  Elaborasi :
·        Mendemonstrasikan cara mudah dalam menyebutkan sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
·        Mengajak siswa untuk mengamati sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
·        Mendemonstrasikan cara menggambar bangun ruang dari sifat-sifat yang telah dipelajari.
·        Membuat kesimpulan dengan cara membuat ringkasan materi.
·        Mengerjakan lembar kerja individu yang diberikan guru.
Ø  Konfirmasi :
·        Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa.
Kegiatan Akhir :
·        Mengumpulkan lembar kerja individu.
·        Melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai materi yang baru dipelajari sebagai penguatan.
·        Pelajaran ditutup dengan salam.

c.         Observasi
Dalam pelaksanaan pembelajaran kegiatan pra siklus ini aktivitas belajar siswa belum tampak. Selanjutnya guru mengadakan tes evaluasi untuk mengukur sejauhmana penguasaan siswa kelas V SD Neferi Sukorame 5 terhadap pembelajaran Matematika sub pokok bahasan bangun ruang. Hasil tes dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :
1.     Daftar hasil belajar siswa
           Daftar hasil belajar siswa pada kegiatan pra siklus dapat dilihat pada table 4.1 dan 4.2 berikut :

Tabel 4.1
Daftar Nilai Siswa Kegiatan Pra Siklus
No.
Nama Siswa
Nilai
1.

60
2.

50
3.

70
4.

70
5.

40
6.

50
7.

60
8.

50
9.

70
10.

60
11.

40
12.

60
13.

70
14.

70
15.

70

            Setelah mengamati hasil nilai di atas, kemudian disajikan dalam sebuah tabel untuk mengetahui seberapa besar ketuntasan individual siswa kelas V dalam memahami pemebelajaran matematika sub pokok bahasan bangun ruang di SD Negeri Sukorame 5 Mojoroto Kediri selama pembelajaran  berlangsung, hal tersebut dapat kita lihat melalui tabel dibawah ini :
Tabel 4.2
Nilai Rata-rata Kelas Pra Siklus
No.
Nilai (n)
Frekuensi (f)
n x f
1.
70
6
420
2.
60
4
240
3.
50
3
150
4.
40
2
80
5.
30
0
0
Jumlah
15
890
Nilai rata-rata

59,3
Keterangan :
n x f = nilai x frekuensi
nilai rata-rata









Gambar 4.1 Grafik Hasil Latihan Siswa
Hasil Interpretasi Data sebagai berikut :
Pada kegiatan pembelajaran ini prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika sub pokok bahasan bangun ruang tergolong dalam kategori rendah. Siswa yang mendapatkan nilai lebih dari 70,0 sebesar 40% atau 6 siswa saja dari seluruh jumlah siswa kelas V, sedangkan yang mendapat nilai kurang dari 70,0 sebesar 60% atau 9 siswa. Nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 59,3. Dalam tahap pembelajaran pra siklus dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pembelajaran belum tuntas.
d.     Refleksi
Berdasarkan hasil pembelajaran diketahui bahwa hasil belajar yang dicapai siswa belum memuaskan, kemampuan guru untuk membangkitkan motivasi belajar siswa belum tampak, sehingga masih banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru. Tingkat pemahaman siswa terhadap pelajaran Matematika masih rendah hal ini tampak pada hasil nilai yang diperoleh siswa pada kegiatan pembelajaran.
  Pada kegiatan selanjutnya, hal-hal yang perlu diperbaiki adalah menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa agar lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran, guru harus lebih kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran agar siswa tertarik untuk mempelajari Matematika.
2.             Kegiatan Perbaikan Siklus I
a.         Perencanaan
·Menyusun rencana perbaikan pembelajaran,
·Membuat soal tugas kelompok LKS Matematika tentang bangun ruang
·Membuat soal tugas individu.
·Mempersiapkan sumber belajar, buku panduan referensi Matematika kelas V.
b.        Pelaksanaan Tindakan Perbaikan
Kegiatan Awal
Ø  Apresepsi :
·        Mengkondisikan kelas mulai dari kelas sampai dengan presensi.
·        Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdo’a.
·        Menyampaikan materi yang akan dipelajari.
Ø  Motivasi :
·        Menyampaikan tujuan pembelajran yang harus dicapai.
·        Mengaitkan pembelajaran dengan benda-benda di sekitar siswa.
Kegiatan Inti
Ø  Eksplorasi
Menggali potensi siswa dengan cara menunjuk beberapa siswa untuk menyebutkan minimal 3 sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
Ø  Elaborasi :
·            Mendemonstrasikan cara mudah dalam menyebutkan sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
·            Siswa diajak untuk mengamati sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
·            Mendemonstrasikan cara menggambar bangun ruang dari sifat-sifat yang telah dipelajari.
·            Membagi siswa menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok mendiskusikan LKS yang diberikan guru.
·            Melaporkan hasil kerja kelompok.
·            Membuat kesimpulan dengan cara membuat ringkasan materi.
·            Mengerjakan lembar kerja individu yang diberikan guru.
Ø  Konfirmasi :
·            Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa.
Kegiatan Akhir :
·            Mengumpulkan lembar kerja individu.
·            Melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai materi yang baru dipelajari sebagai penguatan
·            Pelajaran ditutup dengan salam.
c.      Observasi
Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I, guru menerapkan metode pembelajaran kooperatif menggunakan diskusi kelompok. Dalam kegiatan diskusi siswa diberi LKS. Dalam kegiatan ini seluruh siswa tampak aktif dalam mengikuti diskusi kelompok, siswa memperhatikan penjelasan dari guru tentang langkah-langkah yang harus ditempuh setiap kelompok dalam kegiatan diskusi, dan memulai kegiatan diskusi.
1.         Daftar hasil belajar siswa
Daftar hasil belajar siswa pada kegiatan pra siklus dapat dilihat pada table 4.3 dan 4.4 berikut :



Tabel 4.3
Daftar Nilai Siswa Kegiatan Siklus I
No.
Nama Siswa
Nilai
1.

70
2.

60
3.

80
4.

80
5.

50
6.

60
7.

70
8.

70
9.

70
10.

70
11.

40
12.

70
13.

80
14.

90
15.
80

Tabel 4.4
Nilai Rata-rata Kelas siklus I
No.
Nilai (n)
Frekuensi (f)
n x f
1.
90
1
90
2.
80
4
320
3.
70
6
420
4.
60
2
120
5.
50
1
50
6.
40
1
40
7.
30
0
0
Jumlah
15
1040
Nilai rata-rata

69,3


Keterangan :
n x f = nilai x frekuensi
nilai rata-rata
     Gambar 4.2 Grafik Hasil Latihan Siswa

Hasil Interpretasi Data sebagai berikut :
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa pada kegiatan perbaikan siklus I ini  aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika sudah mulai tampak. Siswa yang mendapatkan nilai lebih dari 70,0 sebesar 70% atau 11 siswa saja dari seluruh jumlah siswa kelas V, sedangkan yang mendapat nilai kurang dari 70,0 sebesar 30% atau 4 siswa. Nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 69,3. Dalam tahap perbaikan pembelajaran siklus I dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pembelajaran belum tuntas.
d.     Refleksi
Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran pada siklus I diketahui bahwa hasil belajar yang dicapai siswa cukup baik, kemampuan guru dalam membangun motivasi belajar agar siswa terlibat dalam kegiatan belajar sudah ada namun masih kurang, sehingga masih ada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru, masih ada siswa yang berbincang dengan teman sebangku. Tingkat pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Matematika  sudah mulai tampak, hal ini dapat dilihat dari keaktifan siswa peda perbaikan siklus I.
Pada kegiatan perbaikan selanjutnya, hal-hal yang perlu diperbaiki diantaranya menyampaikan tujuan pembelajaran, membangun motivasi belajar siswa agar lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran, guru harus lebih aktif dan kreatif dengan memilih metode belajar yang tepat dalam menyampaikan materi agar siswa tertarik dengan materi yang akan diajarkan.
3.     Kegiatan Perbaikan Siklus II
a.     Perencanaan
·            Menyusun rencana perbaikan pembelajaran.
·            Membuat alat peraga miniatur bangun ruang.
·            Membuat soal tugas kelompok LKS Matematika tentang bangun ruang.
·            Membuat soal tugas individu.
·            Mempersiapkan sumber belajar, buku panduan referensi Matematika kelas V.


b.     Pelaksanaan Tindakan Perbaikan
Kegiatan Awal
Ø  Apresepsi :
·        Mengkondisikan kelas mulai dari kelas sampai dengan presensi
·        Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdo’a
·        Menyampaikan materi yang akan dipelajari
Ø  Motivasi :                               
·        Menyampaikan tujuan pembelajran yang harus dicapai
·        Mengaitkan pembelajaran dengan benda-benda di sekitar siswa
Kegiatan Inti :
Ø  Eksplorasi :
·        Menggali potensi siswa dengan cara menunjuk beberapa siswa untuk menyebutkan minimal 3 sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, limas.
Ø  Elaborasi :
·        Mendemonstrasikan cara mudah dalam menyebutkan sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
·        Siswa diajak untuk mengamati sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas dengan menggunakan media miniatur bangun ruang.
·        Mendemonstrasikan cara menggambar bangun ruang dari sifat-sifat yang telah dipelajari.
·        Membagi siswa menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok mendiskusikan LKS yang diberikan guru.
·        Melaporkan hasil kerja kelompok.
·        Membuat kesimpulan dengan cara membuat ringkasan materi.
·        Mengerjakan lembar kerja individu yang diberikan guru.
Ø  Konfirmasi :
·        Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa
Kegiatan Akhir :
·        Mengumpulkan lembar kerja individu
·        Melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai materi yang bari dipelajari sebagi penguatan
·        Pelajaran ditutup dengan bacaan alhamdulillah dan salam
c.      Observasi
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II guru menerapkan metode pembelajaran kooperatif menggunakan diskusi kelompok di tambah dengan penggunaan alat peraga miniatur bangun ruang. Dalam kegiatan diskusi siswa diberi LKS. siswa memperhatikan penjelasan dari guru tentang langkah-langkah yang harus ditempuh setiap kelompok dalam kegiatan diskusi, dan memulai kegiatan diskusi.
1.      Daftar hasil belajar siswa
Daftar hasil belajar siswa pada kegiatan pra siklus dapat dilihat pada table 4.5 dan 4.6 berikut :

Tabel 4.5
Daftar Nilai Siswa Kegiatan Siklus II
No.
Nama Siswa
Nilai
1.

80
2.

70
3.

90
4.

90
5.

70
6.

60
7.

80
8.

90
9.

90
10.

80
11.

60
12.

80
13.

90
14.

100
15.

90

Tabel 4.6
Prosentase dan Nilai Rata-rata Kelas Siklus II
No.
Nilai (n)
Frekuensi (f)
n x f
1.
100
1
100
2.
90
6
540
3.
80
4
320
4.
70
2
140
5.
60
2
120
6.
50
0
0
7.
40
0
0
8.
30
0
0
Jumlah
15
1220
Nilai rata-rata

81,3


Keterangan :
n x f = nilai x frekuensi
nilai rata-rata
Gambar 4.3 Grafik Hasil Latihan Siswa

Hasil Interpretasi Data sebagai berikut :
  berdasarkan tabel 4.6 dapat terlihat bahwa pada kegiatan perbaikan siklus II ini aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika menunjukkan peningkatan yang memuaskan. Prosentase siswa yang mendapatkan nilai melebihi standar ketuntasan belajar 70,0 sudah mencapai 80%. Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan dari 59,3 pada kegiatan pra siklus meningkat hingga 22,0 (dalam skala 100,0) menjadi 81,3 pada siklus II.
d.     Refleksi
Berdasarkan hasil penelitian pada siklus II aktivitas prestasi belajar serta pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Matematika pada sub pokok bahasan bangun ruang mengalami peningkatan yang memuaskan dan indikator sudah dapat tercapai. Dengan demikian penelitian ini terhenti pada siklus II.
B.       Pembahasan Hasil Perbaikan Pembelajaran
Dalam pembahasan ini akan dipaparkan tentang hasil pengamatan dan peningkatan prestasi belajar siswa kelas V terhadap mata pelajaran Matematika sub pokok bahasan bangun ruang sebagai berikut :
                 Pada proses perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan dalam dua siklus menggunakan metode pembelajaran kooperatif  (cooperative learning) menunjukan hasil yang sangat baik. Pada kagiatan pra siklus siswa tang mendapat nilai lebih dari 70 ada 6 siswa (40%) dari 15 orang siswa. Pada perbaikan siklus I prestasi belajar siswa mulai meningkat namun masih ada siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar yang telah ditentukan yaitu 4 siswa, dan 11 siswa (70%) dari seluruh jumlah siswa kelas V yang sudah mencapai standar ketuntasan. Pada perbaikan siklus II prestasi siswa lebih meningkat ada 12 siswa (80%) dari seluruh siswa yang mendapat nilai lebih dari 70 dan mencapai standar ketuntasan belajar, sehingga dalam proses perbaikan pembelajaran ini dikatakan tuntas pada siklus II.
Berdasarkan data yang didapat dari observasi, berikut adalah daftar hasil aktifitas belajar siswa setiap siklus :

Tabel 4.7
Nilai Siswa Masing-Masing Siklus
No.
Nama
Nilai
Pra Siklus
Siklus 1
Siklus 2
1.

60
70
80
2.

50
60
70
3.

70
80
90
4.

70
80
90
5.

40
50
70
6.

50
60
60
7.

60
70
80
8.

50
70
90
9.

70
70
90
10.

60
70
80
11.

40
40
60
12.

60
70
80
13.

70
80
90
14.

70
90
100
15.

70
80
90
Nilai Rata-rata
59,3
69,3
81,3

Secara uum aktivitas belajar Matematika siswa kelas V tiap siklus mengalami peningkatan. Dapat terlihat bahwa pada kegiatan pra siklus aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika tergolong dalam kategori rendah. Nilai rata-rata kelas yang dicapai siswa adalah 59,3.
  Pada kegiatan perbaikan siklus 1 aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika sudah mulai tampak. Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan dari  59,3 meningkat hingga 10 (dalam skala 100,0) menjadi 69,3.
Kegiatan perbaikan siklus 2 aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika menunjukan peningkatan yang signifikan. Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan dari  59,3 pada kegiatan pra siklus meningkat hingga 22 (dalam skala 100,0) menjadi 81,3.
            Dengan demikian seluruh aktivitas belajar dan tingkat pemahaman siswa kelas V SDN Sukorame 5 terhadap pelajarn Matematika pada sub pokok bahasan bangun ruang meningkat. Nilai rata-rata tiap siklus  yang diperoleh siswa pada kegiatan pra siklus  sebesar 59,3 meningkat pada siklus 1 sebesar 69,3 dan meningkat kembali pada siklus 2 mencapai 81,3.


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT
A.    SIMPULAN
            Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) di kelas V SD Negeri Sukorame 5 pada mata pelajaran Matematika sub pokok bahasan bangun ruang, mendorong siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik sehingga memacu siswa untuk memperoleh prestasi belajar yang memuaskan.  Pada kegiatan pra siklus aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika tergolong dalam kategori rendah. Siswa yang mendapatkan nilai lebih dari 70,0 sebesar 40% dari jumlah seluruh siswa kelas V. Nilai rata-rata kelas yang dicapai siswa adalah 59,3.
            Pada kegiatan perbaikan siklus I aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika sudah mulai tampak. Nilai yang dicapai siswa sudah melebihi standar ketuntasan sebesar 70%. Hasil ini dapat dicapai karena guru menerapkan metode Pembelajaran kooperatif  sehingga siswa mulai menunjukan aktivitas belajar, antusiasme dalam mengikuti pembelajaran mulai tampak dan tingkat pemahaman siswa terhadap materi meningkat. Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan dari  59,3 meningkat hingga 10 (dalam skala 100) menjadi 69,3.
Kegiatan perbaikan siklus II aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika menunjukan peningkatan yang memuaskan. Dalam kegiatan perbaikan siklus II ini guru menerapkan metode pembelajaran kooperatif ditunjang dengan alat peraga berupa miniatur bangun ruang yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa, motivasi belajar pada diri siswa, peningkatan pemahan pada pembelajaran Matematika, serta prestasi belajar yang dicapai juga meningkat Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan dari  59,3 pada kegiatan pra siklus meningkat hingga 22 (dalam skala 100) menjadi 81,3. Hasil ini termasuk kategori tinggi atau memuaskan.
Dengan demikian metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Matematika sub pokok bahasan bangun ruang, serta meningkatkan prestasi belajar siswa

B.     SARAN TINDAK LANJUT
1.      Metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dapat digunakan guru sebagai variasi melaksanakan pembelajaran.
2.      Dalam penggunaanya, sebaiknya merencanakan dengan tujuan yang jelas, mempersiapkan instrumen yang akan digunakan dengan maksimal, membantu dalam diskusi kelompok, dan meminimalkan kekurangan dalam pembelajaran. Dengan demikian waktu yang digunakan dapat efektif dan bermanfaat.
3.      Dalam penyampaiannya guru harus tegas dan kreatif agar siswa tetap focus pada kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung.

 

Komentar