PENERAPAN
PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA MATERI
BANGUN RUANG
UNTUK MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR
SISWA KELAS V
SDN SUKORAME 5
MOJOROTO KEDIRI
Laporan
Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP)
( dengan Penelitian Tindakan Kelas
)
Diajukan
kepada
Universitas
Terbuka UPBJJ UT Malang
Untuk
memenuhi salah satu persyaratan
dalam
menyelesaikan program Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar
Oleh :
DZULFA
RAHMAWATI
NIM
: 824636276
KEMENTRIAN
RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS
TERBUKA NEGERI
UPBJJ-UT
MALANG POKJAR KOTA KEDIRI
PROGRAM
S1-PGSD
TAHUN
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
1. Identifikasi
masalah
Permasalahan pendidikan dasar di Indonesia yang
harus mendapatkan penanggulangan secepatnya adalah rendahnya kualitas hasil
pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika. Sebab matematika mempunyai
kontribusi yang sangat penting dalam kehidupan siswa dimasa mendatang.
Kondisi kelas yang memiliki siswa
yang pasif membuat proses pembelajaran terhambat. Kemampuan guru yang kurang
dapat mengkondisikan kelas, suasana
belajar yang kurang menyenangkan, keterbatasan pengetahuan, kurang mampunya
guru dalam menggunakan media pembelajaran dan pemilihan metode yang kurang
tepat dapat juga menjadi penghambat dalam proses pembelajaran.
Banyak media pembelajaran di sekolah yang terlantar
dan tidak diperkenanksn, guru kurang percaya dengan kemampuan media dan
menganggap bahwa media belajar itu hanyalah sebagai alat bantu yang tidak
penting dalam proses belajar mengajar. Mereka menganggap bahwa dengan metode
ceramah adalah pembelajaran yang paling efektif untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Pembelajaran yang menerapkan
kurikulum berbasis kompetensi (KBK) diharap kan dapat meningkatkan hasil
pembelajaran Matematika. Karakteristik pembelajaran berbasis kompetensi adalah
proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru hanya sebagai fasilitator.
Dalam proses pembelajaran siswa belajar dan menggunakan semua potensi yang
dimilikinya.
Terkait dengan pembelajaran matematika, banyak
kecenderungan baru yang tumbuh dan berkembang. Sebagai inovasi dan reformasi
model pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tantangan sekarang dan
mendatang. Dalam hal ini peneliti menerapkan pembalajaran kooperatif (cooperative learning), dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok
kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda.
2. Analisis
masalah
Mengetahui
adanya permasalahan kurangnya nilai siswa berdasarkan KKM, maka dicari penyebab
adanya permasalahan tersebut dengan melakukan observasi pada pembelajaran
matematika. Berdasarkan observasi tersebut ditemukan fakta sebagai berikut:
a.
Siswa belum menguasai
materi bangun ruang
b. Siswa
rata-rata tidak suka dengan mata pelajaran matematika karena merasa sulit.
3. Alternatif
dan prioritas pemecahan masalah
Sebagai alternatif permasalahan ini adalah dengan
menggunakan metode pembelajaran kooperatif
(cooperative learning). Pemilihan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai
diharapkan dapat memberikan motivasi belajar bagi siswa, sehingga berdampak
positif pada prestasi belajar siswa dan meningkatkan pemahaman siswa.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas rumusan masalah yang bisa diajukan dalam
penelitian ini adalah :
Apakah
penggunaan metode pembelajaran kooperatif
(cooperative learning) dapat meningkatkan prestasi siswa kelas V SD Negeri
Sukorame 5 tentang materi bangun ruang?
C. Tujuan Penelitian
Perbaikan Pembelajaran
Tujuan
penelitian yang relevan untuk menjawab beberapa permasalahan adalah :
Meningkatkan
prestasi siswa kelas V pada mata pelajaran Matematika sub pokok bahasan bangun
ruang SD Negeri Sukorame 5 menggunakan metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning)..
D. Manfaat Penelitian
Perbaikan Pembelajaran
Hasil
penelitian tentang penggunaan alat peraga dan metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) diharapkan dapat
dijadikan alteratif bagi
1.
Siswa
Siswa
dapat lebih aktif terlibat langsung dalam memecahkan masalah pembelajaran yang
dialaminya, meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan prestasi belajar, menumbuhkan
rasa senang terhadap pelajaran Matematika,
2.
Guru
Membantu guru
memperbaiki pembelajaran, membantu guru berkembang secara professional, meningkatkan
rasa percaya diri guru
memungkinkan
guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan
3. Sekolah
Manfaat untuk lembaga
adalah meningkatkan kualitas pendidikan, menumbuhkan iklim kerjasama yang
kondusif untuk memajukan sekolah.
4. Peneliti
Manfaat bagi peneliti adalah menambah
wawasan, pengembangan kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran,
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Definisi Prestasi, Belajar, dan Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil
yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985:110) menyaatakan bahwa perstasi belajar dibedakan
menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi
verbal, sikap, dan keterampilan.
Cronbach, Harold Spears dan Geoch dalam Sardiman
A.M (2005:20) “ Learning is shown by a change in behavior as a result of experience
“. “ belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai hasil
pengalaman”.
Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan
bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993:77) belajar adalah
usaha maksimal yang telah dicapai seseorang setelah melakukan usaha-usaha
belajar.
Dari beberapa pendapat
diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan keberhasilan yang
dicapai seseorang setelah melalui proses belajar dan menunjukan adanya
perubahan perilaku belajar. Pengetahuan tersebut di atas dapat dibentuk oleh
individu sendiri berupa pengetahuan fisik, logika, dan sosial.
B.
Definisi Matematika
James
dan James (1976) menyatakan
bahwa metematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran,
dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lain. Matematika terbagi
menjadi empat bagian yaitu aritmatika, aljabar, geometris, dan analisis dengan
aritmatika mencakup teori bilangan dan statistika.
C.
Definisi Bangun Ruang
Sumanto (2008:58) bangun
ruang disebut juga bangun tiga dimensi. Bangun ruang merupakan sebuah bangun
yang memiliki ruang yang dibatasi oleh beberapa sisi.
D.
Model Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning )
Pembelajaran kooperatif
merupakan kegiatan belajar dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil
dengan kemampuan tiap siswa yang berbeda-beda. Dalam kelompok ini tiap anggota
dituntut untuk saling terlibat dalam kerjasama antar anggota kelompok dalam
penyelesaian sebuah masalah. Model pembelajaran kooperatit dikembangkan
berdasarkan teori nelajar kooperatif konstruktivistik
Teori belajar Vygotsky (1978,1986) pembelajaran
kooperatif (cooperative learning) menekankan
pada interaksi sosial sebagai sebuah mekanisme untuk mendukung perkembangan
kognitif. Dalam teori Vygotsky penekanan
pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran Vygotsky yaikni bahwa fase mental yang lebih tinggi pada umumnya
muncul pada percakapan atau kerja sama antara individu sebelum fungsi mental
yang lebih tinggi diserap oleh individu tersebut.
Pembelajaran
kooperatif (cooperative learning) merupakan pengembangan dari teori Piaget
tentang belajar mandiri ke belajar kelompok oleh Vygotsky. Dalam membangun kemampuan dan pengetahuan, siswa
memperoleh pengetahuan beraneka ragam dengan guru sebagai fasilitator.
Dari beberapa teori
diatas proses kognitif yang dilakukan adalah memperoleh dan memanipulasi
pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai,
menalar, membayangkan, dan berbahasa. Dalam kegiatan kelompok dapat berupa
diskusi kelompok kecil, diskusi kelas, mengerjakan tugas kelompok, mengerjakan
secara bersama ke depan kelas 2 sampai 3 siswa dengan soal yang sama sebagai
bahan diskusi, membuat laporan matematika, dan tugas menyampaikan hasil kerja
kelompok.
BAB III
PELAKSANAAN
PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A.
Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian serta Pihak
Yang membantu
1.
Subjek penelitian perbaikan pembelajaran
Subjek penelitian
perbaikan pembelajaran ini adalah siswa kelas V SD Negeri Sukorame 5 kecamatan
Mojoroto Kota Kediri dengan jumlah siswa 15 orang. Penelitian ini tentang
meningkatkan prestasi belajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif terhadap
materi bangun ruang.
2.
Waktu penelitian perbaikan pembelajaran
Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan April 2017 di SD Negeri Sukorame 5 kecamatan Mojoroto
Kota Kediri tahun ajaran 2016/2017. Kegiatan pra siklus dilaksanakan pada
tanggal 17 April 2017. Kegiatan perbaikan siklus I dilaksanakan pada tanggal 21
April 2017. Kegiatan perbaikan siklus II dilaksanakan pada tanggal 26 April
2017.
3.
Pihak yang membantu penelitian perbaikan
pembelajaran
Penelitian ini
dilaksanakan oleh peneliti sendiri dibantu oleh seorang guru yang bertindak
sebagai observer / teman sejawat dan siswa sebagai subjek peneliti.
·
Observer
Nama :
NIP :
Jabatan :
Guru Kelas
Sekolah : SD Negeri Sukorame 5
Alamat Sekolah :
Jl. Veteran III/25 Kec. Mojoroto Kediri
Tugas :
Mengobservasi kegiatan perbaikan pembelajaran
B.
Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Dalam penelitian
perbaikan pembelajaran ini terdiri dari 2 siklus dengan tahap-tahap kegiatan
yang ditempuh pada setiap siklus meliputi 4 kegiatan yaitu : 1. Tahap
perencanaan tindakan perbaikan (plan),
2. Tahap pelaksanaan perbaikan pembelajaran (action),
3. tahap pengamatan (observation), 4.
tahap perenungan (reflection).
Siklus penelitan perbaikan pembelajaran dapat dipaparkan
sebagai berikut :
1.
Tahap perencanaan
(plan)
Penelitian ini direncanakan
terdiri dari dua siklus. Kedua siklus ini saling berkaitan satu sama lain.
Siklus II merupakan perbaikan dari refleksi pada siklus I. Tahap perencanaan
tindakan adalah langkah persiapan untuk : (a) Mengidentfikasi aktifitas dan
prestasi belajar Matematika semester dua siswa kelas V SD Negeri Sukorame 5.
(b) Menyusun rencana tindakan yang hendak dilakukan
dalam penerapan pembelajaran koopertaif dengan menyusun rencana pembelajaran,
menyusun instrumen-instrumen yang akan digunakan. (c) Menyiapkan sumber, alat
dan bahan yang hendak digunakan.
Tahap
perencanaan pada kegiatan siklus I Menyusun rencana perbaikan pembelajaran,
membuat soal tugas kelompok LKS Matematika tentang bangun ruang, membuat soal
tugas individu, mempersiapkan sumber belajar, buku panduan referensi Matematika
kelas V Spektrum, LKS, dan soal latihan.
Tahap perencanaan pada siklus II
Menyusun rencana perbaikan pembelajaran, membuat alat peraga miniatur bangun
ruang, membuat soal tugas kelompok LKS Matematika tentang bangun ruang, membuat
soal tugas individu, mempersiapkan sumber belajar, buku panduan referensi
Matematika kelas V Spektrum, LKS, soal latihan, dan alat peraga miniatur bangun
ruang.
2. Tahap
pelaksanaan (action)
Tahap tindakan adalah kegiatan pelaksanaan
penerapan metode sesuai dengan rencana tindakan
yang telah disusun sebelumnya. Pada kegiatn pra siklus dimulai dengan
metode ceramah yang digunkan guru dalam melakukan pembelajaran sehari-hari.
Pada kegiatan ini guru menjelaskan
tentang sifat-sifat bangun ruang, dan melakukan tanya jawab dengan siswa
seputar materi yang telah dibahas dan menyimpulkan materi.
Pada siklus I metode pembelajaran
kooperatif (cooperative learning)
mulai diterapkan dalam pembelajaran, karena pada siklus ini merupakan kegiatan
perbaikan pembelajaran dari kegiatan pra siklus. Siklus ini dimulai dengan
menerapkan stuktur pembelajaran dan melangsungkan kegiatan belajar mengajar di
kelas, yang terdiri dari 3 kegiatan yaitu : 1) kegiatan pendahuluan, 2)
kegiatan inti, dan 3) kegiatan penutup. Dalam kegiatan pendahuluan guru
mengaitkan materi yang akan dibahas dengan kondisi sekitar siswa. Selanjutnya
kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan dengan menerapkan metode pembelajaran
kooperatif (cooperative learning)
yaitu diskusi kelompok. Setiap kelompok mengerjakan LKS yang di berikan guru
serta melaporkan hasil diskusi. Sedangkan bagian penutup siswa diminta untuk
mengerjakan soal latihan individu..
Dalam siklus II
tindakan dimulai dengan menerapkan diskusi kelompok. Pertama membagi siswa
menjadi 5 kelompok. Guru membagikan LKS, kemudian tiap kelompok
mendiskusikannya. Selanjutnya perwakilan dari tiap kelompok melaporkan hasil
diskusi kelompok. Setelah kegiatan dikusi dilaksanakan siswa mengerjakan soal
latihan individu. Pada kegitan akhir pembelajaran siswa diajak untuk
menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
Pada setiap akhir
siklus dilakukan evaluasi untuk mengetahui peningkatan pemahaman dan prestasi
belajar siswa kelas V terhadap materi bangun ruang SD Negeri Sukorame 5.
3.
Tahap pengamatan
(observation)
Tahap pengamatan adalah
kegiatan langsung maupun tidak langsung untuk merekam semua peristiwa yang
terjadi pada saat proses tindakan. Pengamatan ini merupakan teknik pengumpulan
data dalam nenelitian tindakan kelas dan digunakan untuk mengetahui peningkatan
aktifitas belajar, pemahaman, serta prestasi yang dicapai siswa kelas V SD
Negeri Sukorame 5 selama proses pembelajaran dan perbaikannya.
4.
Tahap perenungan
(reflection)
Tahap perenungan adalah
tahap dimana mengkaji hasil observasi dan merenungkan kembali proses-proses
tindakan dengan berbagai permasalahan. Dalam tahap ini diolah lembar observasi,
dan tes prestasi belajar siswa yang
didapat dari tahap tindakan kemudian menganalisisnya untuk melihat peningkatan
aktivitas belajar, pemahaman, dan prestasi siswa kelas V SD Negeri Sukorame 5.
Kegiatan ini dilakukan untuk menentukan dan mendapatkan masukan bagi perbaikan
rencana selanjutnya.
Gambar 3.1 Spiral
Penelitian Tindakan Kelas
(Diadaptasi
dari Kasbolah, 1999)
Penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan
penelitian tindakan (Action Researtch), karena
penelitian ini menggunakan jenis pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK). Keseluruhan
tahapan ini membentuk alur sampai selesainya seluruh kegiatan penelitian,
sehingga diperoleh data yang dapat disimpulkan sebagai jawaban dari
permasalahan penelitian ini.
C.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dilakukan setelah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus.
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut
:
1. Data Aktifitas Belajar
Matematika Siswa kelas V
Data
aktifitas belajar Matematika siswa kelas V diperoleh melalui lembar observasi
dan teknik yang digunakan dalam penelitian adalah teknik analisis kualitatif.
Hasil observasi ini kemudian dianalisis untuk melihat aktifitas-aktfitas apa
saja yang muncul selama pembelajaran Matematika dengan tidak menggunakan metode
dan penggunaan metode diskusi serta penggunaan alat peraga sebagai alat bantu
pendukung pada kegiatan perbaikan.
Untuk
melihat tingkat keberhasilan siswa dalam belajar dapat ditentukan kriterianya
berkisar 80% dari nilai yang seharusnya dicapai. Standar keberhasilan belajar
ini tercantum dalam kurikulum SD Negeri Sukorame 5 Mojoroto Kota Kediri.
2. Pemahaman
Sifat-sifat Bangun Ruang
Tingkat pemahaman siswa terhadap
sifat-sifat bangun ruang diperoleh dari hasil tes yang dilakukan disetiap
siklus yaitu siklus I dan II sial isian berjumlah 5 soal dan soal uraian
berjumlah 5 soal.
Tingkat pemahaman siswa dapat dikatakan
tuntas apabila penguasaan siswa terhadap materi mencapai 70% atau mendapatkan
nilai 70 dari setiap tes. Siswa yang mampu memperoleh nilai lebih dari 70
diberikan tes pengayaan, sedangkan siswa yang memperoleh nilai kurang dari 70
diadakan remidial.
Secara klasikal prosentase tingkat
pemahaman siswa dapat dikatakan tuntas jika siswa yang memperoleh nilai di atas
70 mencapai 80% dari jumlah seluruh siswa. Jika kurang dari 80% maka dapat
dikatakan kurang dan diadakan perbaikan.
Penilaian ini dillakukan untuk
mengetahui keberhasilan dalam pembelajaran Matematika sub pokok bahasan
sifat-sifat bangun ruang. Penelitian ini mengacu pada proses kegiatan
pembelajaran dan hasil akhir penilaian dalam bentuk prosentase.
3. Keterlaksanaan
Pembelajaran Kooperatif dalam Pembelajaran
Keterlaksanaan pembelajaran kooperatif
dikatakan berhasil jika 80% siswa atau 12 siswa dapat melaksanakan pembelajaran
kooperatif dengan baik dan memperoleh nilai yang telah ditentukan.
4. Kegiatan
Mengajar Guru
Kegiatan mengajar dapat dikatakan
baik jika guru dapat mengkondisikan kelas dan siswa, dapat memberikan motovasi
belajar kepada siswa, membangkitkan semangat belajar, dapat memberikan petunjuk
dan penjelasan berkaitan dengan isi pembelajaran, menangani pertanyaan dan
respon dari siswa, memicu keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan mengelola
alokasi waktu secara efisien. Hasil dari kegiatan mengajar guru dapat diamati
dari lembar observasi kemampuan guru.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam
hal ini akan dipaparkan beberapa data hasil peneliti yang meliputi data hasil
pengamatan pelaksanaan tindakan pada kegiatan pra siklus, siklus I, dan siklus
II, dan data-data prestasi belajar siswa yang diperoleh dari hasil test yang
diberikan selama kegiatan berlangsung.
A.
Deskripsi
Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1.
Kegiatan
Pra Siklus
a.
Perencanaan
· Menyusun
rencana pembelajaran
·
Membuat soal tes
prestasi belajar siswa dalam pelajaran Matematika
·
Membuat lembar
observasi
·
Mempersiapkan sumber, bahan
berupa buku reverensi Matematika kelas V
b.
Pelaksanaan
Tindakan Kelas
Kegiatan
awal
Ø Apresepsi :
· Mengkondisikan
kelas mulai dari kelas sampai dengan presensi.
· Membuka
pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdo’a.
· Menyampaikan
materi yang akan dipelajari.
Ø Motivasi :
· Menyampaikan
tujuan pembelajran yang harus dicapai.
· Mengaitkan
pembelajaran dengan benda-benda di sekitar siswa.
Kegiatan Inti :
Ø Eksplorasi :
·
Menggali potensi
siswa dengan cara menunjuk beberapa siswa untuk menyebutkan minimal 3 sifat
bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
Ø Elaborasi :
·
Mendemonstrasikan
cara mudah dalam menyebutkan sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut,
dan limas.
·
Mengajak siswa untuk
mengamati sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
·
Mendemonstrasikan
cara menggambar bangun ruang dari sifat-sifat yang telah dipelajari.
·
Membuat
kesimpulan dengan cara membuat ringkasan materi.
·
Mengerjakan
lembar kerja individu yang diberikan guru.
Ø Konfirmasi :
·
Memberikan
konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa.
Kegiatan Akhir :
·
Mengumpulkan
lembar kerja individu.
·
Melakukan tanya
jawab dengan siswa mengenai materi yang baru dipelajari sebagai penguatan.
·
Pelajaran
ditutup dengan salam.
c.
Observasi
Dalam pelaksanaan
pembelajaran kegiatan pra siklus ini aktivitas belajar siswa belum tampak.
Selanjutnya guru mengadakan tes evaluasi untuk mengukur sejauhmana penguasaan
siswa kelas V SD Neferi Sukorame 5 terhadap pembelajaran Matematika sub pokok
bahasan bangun ruang. Hasil tes dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai
berikut :
1.
Daftar
hasil belajar siswa
Daftar hasil belajar siswa pada
kegiatan pra siklus dapat dilihat pada table 4.1 dan 4.2 berikut :
Tabel 4.1
Daftar Nilai Siswa Kegiatan Pra Siklus
No.
|
Nama Siswa
|
Nilai
|
1.
|
60
|
|
2.
|
50
|
|
3.
|
70
|
|
4.
|
70
|
|
5.
|
40
|
|
6.
|
50
|
|
7.
|
60
|
|
8.
|
50
|
|
9.
|
70
|
|
10.
|
60
|
|
11.
|
40
|
|
12.
|
60
|
|
13.
|
70
|
|
14.
|
70
|
|
15.
|
70
|
Setelah
mengamati hasil nilai di atas, kemudian disajikan dalam sebuah tabel untuk
mengetahui seberapa besar ketuntasan individual siswa kelas V dalam memahami
pemebelajaran matematika sub pokok bahasan bangun ruang di SD Negeri Sukorame 5
Mojoroto Kediri selama pembelajaran
berlangsung, hal tersebut dapat kita lihat melalui tabel dibawah ini :
Tabel 4.2
Nilai Rata-rata Kelas Pra Siklus
No.
|
Nilai
(n)
|
Frekuensi
(f)
|
n
x f
|
1.
|
70
|
6
|
420
|
2.
|
60
|
4
|
240
|
3.
|
50
|
3
|
150
|
4.
|
40
|
2
|
80
|
5.
|
30
|
0
|
0
|
Jumlah
|
15
|
890
|
|
Nilai
rata-rata
|
59,3
|
||
Keterangan
:
n
x f = nilai x frekuensi
nilai
rata-rata 
Gambar
4.1 Grafik Hasil Latihan Siswa

Hasil Interpretasi Data sebagai
berikut :
Pada kegiatan pembelajaran
ini prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika sub pokok bahasan
bangun ruang tergolong dalam kategori rendah. Siswa yang mendapatkan nilai
lebih dari 70,0 sebesar 40% atau 6 siswa saja dari seluruh jumlah siswa kelas V,
sedangkan yang mendapat nilai kurang dari 70,0 sebesar 60% atau 9 siswa. Nilai
rata-rata kelas yang dicapai adalah 59,3. Dalam tahap pembelajaran pra siklus
dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pembelajaran belum tuntas.
d.
Refleksi
Berdasarkan hasil
pembelajaran diketahui bahwa hasil belajar yang dicapai siswa belum memuaskan,
kemampuan guru untuk membangkitkan motivasi belajar siswa belum tampak,
sehingga masih banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru.
Tingkat pemahaman siswa terhadap pelajaran Matematika masih rendah hal ini
tampak pada hasil nilai yang diperoleh siswa pada kegiatan pembelajaran.
Pada kegiatan selanjutnya, hal-hal yang perlu diperbaiki adalah
menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa agar lebih aktif dalam
mengikuti pembelajaran, guru harus lebih kreatif dalam menyampaikan materi
pelajaran agar siswa tertarik untuk mempelajari Matematika.
2.
Kegiatan Perbaikan Siklus I
a.
Perencanaan
·Menyusun
rencana perbaikan pembelajaran,
·Membuat
soal tugas kelompok LKS Matematika tentang bangun ruang
·Membuat
soal tugas individu.
·Mempersiapkan
sumber belajar, buku panduan referensi Matematika kelas V.
b.
Pelaksanaan Tindakan Perbaikan
Kegiatan Awal
Ø Apresepsi :
·
Mengkondisikan
kelas mulai dari kelas sampai dengan presensi.
·
Membuka
pelajaran dengan mengucapkan salam dan berdo’a.
·
Menyampaikan
materi yang akan dipelajari.
Ø Motivasi :
·
Menyampaikan
tujuan pembelajran yang harus dicapai.
·
Mengaitkan
pembelajaran dengan benda-benda di sekitar siswa.
Kegiatan Inti
Ø Eksplorasi
Menggali potensi siswa
dengan cara menunjuk beberapa siswa untuk menyebutkan minimal 3 sifat bangun
ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
Ø Elaborasi :
·
Mendemonstrasikan
cara mudah dalam menyebutkan sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut,
dan limas.
·
Siswa diajak
untuk mengamati sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas.
·
Mendemonstrasikan
cara menggambar bangun ruang dari sifat-sifat yang telah dipelajari.
·
Membagi siswa
menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok mendiskusikan LKS yang diberikan
guru.
·
Melaporkan hasil
kerja kelompok.
·
Membuat
kesimpulan dengan cara membuat ringkasan materi.
·
Mengerjakan
lembar kerja individu yang diberikan guru.
Ø Konfirmasi :
·
Memberikan
konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa.
Kegiatan Akhir :
·
Mengumpulkan
lembar kerja individu.
·
Melakukan tanya
jawab dengan siswa mengenai materi yang baru dipelajari sebagai penguatan
·
Pelajaran
ditutup dengan salam.
c.
Observasi
Dalam
pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I, guru menerapkan metode pembelajaran
kooperatif menggunakan diskusi kelompok. Dalam kegiatan diskusi siswa diberi
LKS. Dalam kegiatan ini seluruh siswa tampak aktif dalam mengikuti diskusi
kelompok, siswa memperhatikan penjelasan dari guru tentang langkah-langkah yang
harus ditempuh setiap kelompok dalam kegiatan diskusi, dan memulai kegiatan
diskusi.
1.
Daftar
hasil belajar siswa
Daftar
hasil belajar siswa pada kegiatan pra siklus dapat dilihat pada table 4.3 dan
4.4 berikut :
Tabel 4.3
Daftar
Nilai Siswa Kegiatan Siklus I
No.
|
Nama Siswa
|
Nilai
|
1.
|
70
|
|
2.
|
60
|
|
3.
|
80
|
|
4.
|
80
|
|
5.
|
50
|
|
6.
|
60
|
|
7.
|
70
|
|
8.
|
70
|
|
9.
|
70
|
|
10.
|
70
|
|
11.
|
40
|
|
12.
|
70
|
|
13.
|
80
|
|
14.
|
90
|
|
15.
|
80
|
Tabel 4.4
Nilai Rata-rata Kelas siklus I
No.
|
Nilai
(n)
|
Frekuensi
(f)
|
n
x f
|
1.
|
90
|
1
|
90
|
2.
|
80
|
4
|
320
|
3.
|
70
|
6
|
420
|
4.
|
60
|
2
|
120
|
5.
|
50
|
1
|
50
|
6.
|
40
|
1
|
40
|
7.
|
30
|
0
|
0
|
Jumlah
|
15
|
1040
|
|
Nilai
rata-rata
|
69,3
|
||
Keterangan :
n x f = nilai x frekuensi
nilai
rata-rata 
Gambar 4.2
Grafik Hasil Latihan Siswa

Hasil Interpretasi Data sebagai
berikut :
Berdasarkan
tabel 4.4 dapat dilihat bahwa pada kegiatan perbaikan siklus I ini aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika
sudah mulai tampak. Siswa yang
mendapatkan nilai lebih dari 70,0 sebesar 70% atau 11 siswa saja dari seluruh
jumlah siswa kelas V, sedangkan yang mendapat nilai kurang dari 70,0 sebesar
30% atau 4 siswa. Nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 69,3. Dalam tahap
perbaikan pembelajaran siklus I dapat ditarik kesimpulan bahwa proses
pembelajaran belum tuntas.
d.
Refleksi
Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran
pada siklus I diketahui bahwa hasil belajar yang dicapai siswa cukup baik,
kemampuan guru dalam membangun motivasi belajar agar siswa terlibat dalam
kegiatan belajar sudah ada namun masih kurang, sehingga masih ada siswa yang
tidak memperhatikan penjelasan dari guru, masih ada siswa yang berbincang
dengan teman sebangku. Tingkat pemahaman siswa terhadap mata pelajaran
Matematika sudah mulai tampak, hal ini
dapat dilihat dari keaktifan siswa peda perbaikan siklus I.
Pada kegiatan perbaikan selanjutnya, hal-hal yang
perlu diperbaiki diantaranya menyampaikan tujuan pembelajaran, membangun
motivasi belajar siswa agar lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran, guru
harus lebih aktif dan kreatif dengan memilih metode belajar yang tepat dalam
menyampaikan materi agar siswa tertarik dengan materi yang akan diajarkan.
3.
Kegiatan Perbaikan Siklus II
a.
Perencanaan
·
Menyusun rencana
perbaikan pembelajaran.
·
Membuat alat
peraga miniatur bangun ruang.
·
Membuat soal
tugas kelompok LKS Matematika tentang bangun ruang.
·
Membuat soal
tugas individu.
·
Mempersiapkan
sumber belajar, buku panduan referensi Matematika kelas V.
b.
Pelaksanaan Tindakan Perbaikan
Kegiatan Awal
Ø Apresepsi :
·
Mengkondisikan
kelas mulai dari kelas sampai dengan presensi
·
Membuka pelajaran
dengan mengucapkan salam dan berdo’a
·
Menyampaikan
materi yang akan dipelajari
Ø Motivasi :
·
Menyampaikan
tujuan pembelajran yang harus dicapai
·
Mengaitkan
pembelajaran dengan benda-benda di sekitar siswa
Kegiatan Inti :
Ø Eksplorasi :
·
Menggali potensi
siswa dengan cara menunjuk beberapa siswa untuk menyebutkan minimal 3 sifat
bangun ruang tabung, prisma, kerucut, limas.
Ø Elaborasi :
·
Mendemonstrasikan
cara mudah dalam menyebutkan sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut,
dan limas.
·
Siswa diajak
untuk mengamati sifat-sifat bangun ruang tabung, prisma, kerucut, dan limas
dengan menggunakan media miniatur bangun ruang.
·
Mendemonstrasikan
cara menggambar bangun ruang dari sifat-sifat yang telah dipelajari.
·
Membagi siswa menjadi
5 kelompok, masing-masing kelompok mendiskusikan LKS yang diberikan guru.
·
Melaporkan hasil
kerja kelompok.
·
Membuat
kesimpulan dengan cara membuat ringkasan materi.
·
Mengerjakan
lembar kerja individu yang diberikan guru.
Ø Konfirmasi :
·
Memberikan
konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa
Kegiatan Akhir :
·
Mengumpulkan
lembar kerja individu
·
Melakukan tanya
jawab dengan siswa mengenai materi yang bari dipelajari sebagi penguatan
·
Pelajaran
ditutup dengan bacaan alhamdulillah dan salam
c.
Observasi
Pelaksanaan
perbaikan pembelajaran siklus II guru menerapkan metode pembelajaran kooperatif
menggunakan diskusi kelompok di tambah dengan penggunaan alat peraga miniatur
bangun ruang. Dalam kegiatan diskusi siswa diberi LKS. siswa memperhatikan
penjelasan dari guru tentang langkah-langkah yang harus ditempuh setiap
kelompok dalam kegiatan diskusi, dan memulai kegiatan diskusi.
1.
Daftar
hasil belajar siswa
Daftar
hasil belajar siswa pada kegiatan pra siklus dapat dilihat pada table 4.5 dan
4.6 berikut :
Tabel 4.5
Daftar Nilai Siswa Kegiatan Siklus II
No.
|
Nama Siswa
|
Nilai
|
1.
|
80
|
|
2.
|
70
|
|
3.
|
90
|
|
4.
|
90
|
|
5.
|
70
|
|
6.
|
60
|
|
7.
|
80
|
|
8.
|
90
|
|
9.
|
90
|
|
10.
|
80
|
|
11.
|
60
|
|
12.
|
80
|
|
13.
|
90
|
|
14.
|
100
|
|
15.
|
90
|
Tabel 4.6
Prosentase dan Nilai Rata-rata Kelas Siklus II
No.
|
Nilai
(n)
|
Frekuensi
(f)
|
n
x f
|
1.
|
100
|
1
|
100
|
2.
|
90
|
6
|
540
|
3.
|
80
|
4
|
320
|
4.
|
70
|
2
|
140
|
5.
|
60
|
2
|
120
|
6.
|
50
|
0
|
0
|
7.
|
40
|
0
|
0
|
8.
|
30
|
0
|
0
|
Jumlah
|
15
|
1220
|
|
Nilai
rata-rata
|
81,3
|
||
Keterangan :
n x f = nilai x
frekuensi
nilai rata-rata 
Gambar
4.3 Grafik Hasil Latihan Siswa

Hasil Interpretasi Data sebagai
berikut :
berdasarkan tabel 4.6 dapat terlihat bahwa pada kegiatan
perbaikan siklus II ini aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika
menunjukkan peningkatan yang memuaskan. Prosentase siswa yang mendapatkan nilai
melebihi standar ketuntasan belajar 70,0 sudah mencapai 80%. Nilai rata-rata
kelas mengalami peningkatan dari 59,3 pada kegiatan pra
siklus meningkat hingga 22,0 (dalam skala 100,0) menjadi 81,3 pada siklus II.
d.
Refleksi
Berdasarkan hasil penelitian
pada siklus II aktivitas prestasi belajar serta pemahaman siswa terhadap mata
pelajaran Matematika pada sub pokok bahasan bangun ruang mengalami peningkatan
yang memuaskan dan indikator sudah dapat tercapai. Dengan demikian penelitian
ini terhenti pada siklus II.
B.
Pembahasan Hasil Perbaikan Pembelajaran
Dalam pembahasan ini akan dipaparkan
tentang hasil pengamatan dan peningkatan prestasi belajar siswa kelas V
terhadap mata pelajaran Matematika sub pokok bahasan bangun ruang sebagai
berikut :
Pada
proses perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan dalam dua siklus
menggunakan metode pembelajaran kooperatif
(cooperative learning) menunjukan
hasil yang sangat baik. Pada kagiatan pra siklus siswa tang mendapat nilai
lebih dari 70 ada 6 siswa (40%) dari 15 orang siswa. Pada perbaikan siklus I
prestasi belajar siswa mulai meningkat namun masih ada siswa yang belum
mencapai ketuntasan belajar yang telah ditentukan yaitu 4 siswa, dan 11 siswa
(70%) dari seluruh jumlah siswa kelas V yang sudah mencapai standar ketuntasan.
Pada perbaikan siklus II prestasi siswa lebih meningkat ada 12 siswa (80%) dari
seluruh siswa yang mendapat nilai lebih dari 70 dan mencapai standar ketuntasan
belajar, sehingga dalam proses perbaikan pembelajaran ini dikatakan tuntas pada
siklus II.
Berdasarkan data yang didapat dari
observasi, berikut adalah daftar hasil aktifitas belajar siswa setiap siklus :
Tabel
4.7
Nilai Siswa Masing-Masing Siklus
No.
|
Nama
|
Nilai
|
||
Pra Siklus
|
Siklus 1
|
Siklus 2
|
||
1.
|
60
|
70
|
80
|
|
2.
|
50
|
60
|
70
|
|
3.
|
70
|
80
|
90
|
|
4.
|
70
|
80
|
90
|
|
5.
|
40
|
50
|
70
|
|
6.
|
50
|
60
|
60
|
|
7.
|
60
|
70
|
80
|
|
8.
|
50
|
70
|
90
|
|
9.
|
70
|
70
|
90
|
|
10.
|
60
|
70
|
80
|
|
11.
|
40
|
40
|
60
|
|
12.
|
60
|
70
|
80
|
|
13.
|
70
|
80
|
90
|
|
14.
|
70
|
90
|
100
|
|
15.
|
70
|
80
|
90
|
|
Nilai Rata-rata
|
59,3
|
69,3
|
81,3
|
|
Secara uum aktivitas belajar Matematika siswa kelas
V tiap siklus mengalami peningkatan. Dapat terlihat bahwa pada kegiatan pra
siklus aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika tergolong dalam
kategori rendah. Nilai rata-rata kelas yang dicapai siswa adalah 59,3.
Pada kegiatan perbaikan siklus 1 aktifitas belajar siswa pada mata
pelajaran Matematika sudah mulai tampak. Nilai rata-rata kelas mengalami
peningkatan dari 59,3 meningkat hingga
10 (dalam skala 100,0) menjadi 69,3.
Kegiatan
perbaikan siklus 2 aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika menunjukan
peningkatan yang signifikan. Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan
dari 59,3 pada kegiatan pra siklus
meningkat hingga 22 (dalam skala 100,0) menjadi 81,3.
Dengan demikian seluruh aktivitas
belajar dan tingkat pemahaman siswa kelas V SDN Sukorame 5 terhadap pelajarn
Matematika pada sub pokok bahasan bangun ruang meningkat. Nilai rata-rata tiap
siklus yang diperoleh siswa pada kegiatan
pra siklus sebesar 59,3 meningkat pada
siklus 1 sebesar 69,3 dan meningkat kembali pada siklus 2 mencapai 81,3.
BAB
V
SIMPULAN
DAN SARAN TINDAK LANJUT
A.
SIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran
kooperatif (cooperative learning) di
kelas V SD Negeri Sukorame 5 pada mata pelajaran Matematika sub pokok bahasan
bangun ruang, mendorong siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik sehingga
memacu siswa untuk memperoleh prestasi belajar yang memuaskan. Pada kegiatan pra siklus aktifitas belajar
siswa pada mata pelajaran Matematika tergolong dalam kategori rendah. Siswa
yang mendapatkan nilai lebih dari 70,0 sebesar 40% dari jumlah seluruh siswa
kelas V. Nilai rata-rata kelas yang dicapai siswa adalah 59,3.
Pada kegiatan
perbaikan siklus I aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran Matematika sudah
mulai tampak. Nilai yang dicapai siswa sudah melebihi standar ketuntasan
sebesar 70%. Hasil ini dapat dicapai karena guru menerapkan metode Pembelajaran
kooperatif sehingga siswa mulai
menunjukan aktivitas belajar, antusiasme dalam mengikuti pembelajaran mulai
tampak dan tingkat pemahaman siswa terhadap materi meningkat. Nilai rata-rata
kelas mengalami peningkatan dari 59,3
meningkat hingga 10 (dalam skala 100) menjadi 69,3.
Kegiatan perbaikan siklus II aktifitas belajar siswa pada mata
pelajaran Matematika menunjukan peningkatan yang memuaskan. Dalam kegiatan
perbaikan siklus II ini guru menerapkan metode pembelajaran kooperatif
ditunjang dengan alat peraga berupa miniatur bangun ruang yang dapat
membangkitkan rasa ingin tahu siswa, motivasi belajar pada diri siswa,
peningkatan pemahan pada pembelajaran Matematika, serta prestasi belajar yang
dicapai juga meningkat Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan dari 59,3 pada kegiatan pra siklus meningkat hingga 22 (dalam skala 100) menjadi 81,3. Hasil ini termasuk kategori tinggi
atau memuaskan.
Dengan demikian
metode pembelajaran kooperatif (cooperative
learning) dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran
Matematika sub pokok bahasan bangun ruang, serta meningkatkan prestasi belajar
siswa
B.
SARAN TINDAK
LANJUT
1.
Metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dapat digunakan guru sebagai variasi
melaksanakan pembelajaran.
2. Dalam
penggunaanya, sebaiknya merencanakan dengan tujuan yang jelas, mempersiapkan
instrumen yang akan digunakan dengan maksimal, membantu dalam diskusi kelompok,
dan meminimalkan kekurangan dalam pembelajaran. Dengan demikian waktu yang
digunakan dapat efektif dan bermanfaat.
3. Dalam
penyampaiannya guru harus tegas dan kreatif agar siswa tetap focus pada
kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung.
Komentar
Posting Komentar